dan Korban itu bernama KHOLIK

Jam mulai menunjukan jam 3 sore, Lapangan Niti Mandala Renon selain di pake olah raga atau sekedar jalan cuci mata sore itu dihiasi dengan sedikit gerimis namun matahari masih terang melawan gerimis. Tapi untung lah, dari pada becek (bacanya pake gaya Cinta laura).

Rerumputan yang mengering karena tak pernah terkena air membuat suasana sore itu gak begitu sejuk, karena tau sendiri denpasar kayak gimana, gak pernah ada hujan selama beberapa bulan terakhir. Pedagang jagung dengan ramah tamah melayani pembeli yang datang dan pergi. Serta beberapa pedagang mainan anak lalu lalang sambil memainkan dagangannya.

Kurang lebih sejam kemudian, beberapa kawan dari forum laros berkumpul sekitar 20orang, ada yang pulang kerja, ada yang baru bangun tidur, ada yang sakit, ada yang jauh dari bukit jimbarang, ada juga yang baru pulang belanja dari kumbasari, smuanya ngumpul. Dengan sedikit perkenalan non formal dan gosip tentang Cinta Laura, sampe soal utang piutang.

Setelah saling tunjuk dan saling pandang siapa yang harus memulai akhirnya obrolan yang lebih serius dimulai oleh mas Danang, salah satu wong tuwek berpangkat Laros Donatur di forum laros Bali. Obrolan pun mengalir, banyak ide yang tetuang, banyak harapan yang ingin di gapai kawan-kawan lewat forum yang awalnya hanya sebuah forum virtual saja.

Sore itu, jam 6 lebih, sudah tidak gerimis lagi, lapangan renon rame, rumput masih tetap kering, camilan sudah mulai habis, beberapa putung rokok berserakan, mega sudah menampakan diri sebagai pertanda hari ini akan mulai gelap. Di tunjuklah korban yang nantinya diharapkan mengkoordinasi kawan-kawan laros Bali, menjaga laros Bali, membuat laros Bali lebih eksis, dan korban itu bernama Kholik, member junior yang baru masuk, dan kurang berpengalaman di bidang ini di banding kawan-kawan laros Bali yang lain.

Namanya juga korban, gak dapat melakukan pembelaan, walau setiap warga negara memiliki hak untuk melakukan pledoi dalam bahasa hukum, atau hak Jawab dalam bahasa jurnalistik, emmmm… korban atas musyawarah mufakat, korban atas nama demokrasi.

So..Rakyat sudah menghendaki (ngikut bahasanya order baru), kepercayaan tersebut harus di jalani, walaupun gak tau kepercayaan tersebut entah sampe kapan, malahan ada kawan yang nyeletuk ”sampek elek”, wuih…. lama bangt dunk… secara kholik tu ganteng banget, dan klo nunggu jelek, ya gak tau sampe kapan.

Niti Mandala Renon

Advertisements

2 Comments »

  1. cha Said:

    nambah lagi satu sainganku…
    Anw,,gud luck ya…

    gak koq..
    itu lho nyantai
    miss u

  2. noped Said:

    GImana pak Ketua ? rencana laros bali mo ada acara apa lagi niyy ?

    sek ped…
    iki dirapatkan barisane disik


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: