Sandal Jepit Butut VS Sandal Kulit

Malam minggu kamarin seperti malam2 biasanya sendiri, ditemani komputer dan jaringan internet yang kadang menjengkelkan. namun malam ini ada yang special sandal jepit yang aku beli di Gunung Ijen bulan lalu putus di dan terpaksa harus pulang tanpa sandal jepit butut.

sandal jepit yang telah menemani selama 3bulan terakhir, naik gunung ijen, merambah belantara Alas Purwo, masuk WC, dugem di Hard Rock, Mancing, Bedugul, Singaraja, Banyuwangi, Ketemu Bos-bos besar, ketemu Pemulung, Ketemu nelayan, selama 3bulan terakhir di temani sandal jepit baik senang maupun duka, panas maupun hujan, injak keramik mahal munpun injak tanah berlumpur sekalipun tetap setia menemani.

dan malam minggu kamarin sandal jepit berhenti menemani perjalanku digantikan sandal kulit (masih tetap murah), sandal jepit sekarang masuk tempat sampah, entah nanti berganti pemilik atau menjadi abu karena di bakar bapak kos.

FIlosofi Sandal Jepit : Kesederhanaan.
Bisa jadi, sesuatu yang kita anggap sepele mempunyai nilai ilmu atau nasihat yang besar. Selama ini kita mempunyai kecenderungan untuk “hanya” mengamati hal-hal yang penting dan besar saja, misalnya manusia, jalan raya, toko, film, uang, dan lain sebagainya. Jarang sekali kita melihat hal-hal kecil dan sepele.

Sebagai contoh adalah sandal jepit. Kalau dilihat sepintas, memang, sandal jepit bukanlah berarti apa-apa. Ia hanyalah sebuah benda yang kita kenakan sehari-hari ketika pergi ke tempat yang kurang penting. Pergi ke kamar mandi, pergi ke kebun, pergi membuang sampah, kita kenakan sandal jepit itu. Padahal, kalau kita mau sedikit lebih dalam menghayati sandal jepit ini, ada banyak ilmu dan nasihat yang tersirat di dalamnya. Banyak sekali. Tetapi entah kita yang tidak tahu, atau tidak “mau” tahu, mungkin kita terlalu sibuk untuk memikrkan itu.

Pertama, sandal jepit dikenakan SEMUA ORANG di Indonesia. Tidak ada yang alergi dengan sandal jepit. Orang miskin, orang kaya, orang sederhana, orang befoya-foya, semua memakai sandal jepit di suatu saat dalam hidupnya. Tidak masalah meskipun hanya sebentar memakainya. tetapi konteksnya adalah memakai. Malah, ketika kehilangan sandal jepit, orang cenderung kesusahan untuk mengerjakan sesuatu. Semua orang dari semua suku -kecuali yang belum terjamah- pasti memakai sandal jepit. Tidak ada perasaan gengsi, malu, ketika memakai sandal jepit, walaupun memang memakainya biasanya di rumah.

Kedua, desainnya yang sederhana mampu menahan morfologi kaki yang sedemikian rumit konturnya. Bayangkan, hanya satu pengait di depan dan tiga percabangan kecil yang melingkari kaki, mampu menahan beban berat langkah manusia selama berbulan-bulan. Luar biasanya lagi, desain ini cocok untuk semua jenis kaki manusia, karena sifat elastisitas dari karet yang mampu beradaptasi dengan bentuk-bentuk baru. Padahal, bisa kita bayangkan, pabrik pembuat sandal jepit itu tidak pernah -bahkan tidak mungkin- mendesain sandal jepait dengan ketelitian dan proses perancangan yang rumit, tanpa penelitian. Anehnya, semua produk sandal jepit pas di kaki pemakainya.

Dan masih banyak lagi.

Seandainya kita mau mencontoh sandal jepit, pastilah hidup kita akan lebih bahagia. Kita sebagai manusia bisa dicintai semua orang tanpa kecuali. Kita bisa diterima disegala lapisan. Kita bisa memberikan manfaat kepada semua orang meski hanya sebentar.
Kesederhanaan kita akan lebih disukai orang lain. Orang lain tidak suka melihat orang yang berlebih-lebihan. Justru kesederhanaanlah yang akan membawa wibawa. Dan yang lebih utama lagi, orang seperti kita berjumlah sangat banyak. Tidak hanya kita. Kanapa harus malu menggunakan sandal jepit kemana-mana.

It’s about choice of life options, and controlling our feel and our mind. For our lifestyle

Beberpa moment bersama sandal jepit yang berhasil di tangkap kamera

Bersama NORMAL BAND, saat jadi band pembuka /RIF

di pelabukan LEMBAR, Lombok Barat, menunggu kapal penyebrangan

manemani saat mancing di Belakang Ritz Carlton

di Danau Buyan , Bedugul

Menemani Saat di Pelabuhan Benoa

Menemai di Kapal Ferry, Ketapang, mau pulang kampung

saat hunting foto di TPI Grajagan, Banyuwangi

Istirahat di Hutan, mau Bakar ikan

Advertisements

9 Comments »

  1. Lely Said:

    syukron udah mengingatkan aq dengan kesederhanaan, mungkin bisa memberikan inspirasi utkku agar bisa jadi orang yang lebih sederhana…
    dengan selalu melihat ke bawah tanpa harus berorientasi melihat ke atas…

    amin
    keep fight

  2. agung frans Said:

    wadow mantap sandalnya coy

  3. Nad Said:

    Sandal jepit oh sandal jepit…

  4. benx benx Said:

    sandal jepit tmn setia! udh putus beli lagi!!!hahahaha!!!!!

  5. klnthingbaru Said:

    sumpah luuwwwwwwcu sontekno neng klinik kang

  6. klnthingbaru Said:

    sumpah luuuuuwwwwwcu suntekno neng klinik kang

  7. ichsan Said:

    tanpa u , q malu ketemu cma cwe q.. oh wahai sandal jepit q.!! hahahahaha

  8. 12345678910 Said:

    Ohhh pantesan kelihatan banget sandalny menderita terlalu sakit sandlny hahahahaaaaa

  9. Simply desire to say your article is as amazing.
    The clarity in your post is simply spectacular and i can assume you are an expert
    on this subject. Well with your permission let me to grab your RSS feed to keep updated with forthcoming post.
    Thanks a million and please carry on the enjoyable work.


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: