Genjer-Genjer: Siapa Penciptanya?

Artikel Oleh: Achmad Aksoro

Untuk menghilangkan penafsiran yang negatif terhadap lagu Genjer-genjer, sebaiknya kita mengetahui kapan lagu tersebut diciptakan dan oleh siapa yang menciptakan dan mengapa ia menciptakan lagu tersebut.

Seorang yang bernama Mohammad Arif dari Desa Temenggungan (sekarang Kelurahan Temenggungan) , sejak zaman penjajahan Belanda mempunyai seperangkat kesenian Angklung. Gedung bioskop pada setiap memutar film Jawa (istilah dulu film Indonesia disebut film Jawa), Angklung Moh. Arif mesti diundang untuk main di serambi muka gedung bioskop yang sedang memutar film Jawa. Apabila bioskop sedang memutar film Jawa, penontonnya membludak penuh karena masyarakat Banyuwangi mengerti. Apabila Angklung main di serambi muka gedung bioskop berarti film Jawa main. Bintang-bintang film yang menjadi kebanggaan masyarakat Banyuwangi waktu itu seperti Kartolo, R. Muchtar, Moh. Muchtar dan Kastaman. Sedang bintang-bintang film wanita Eukiyah, Fatimah Candarkasih, Mis Titing, Ani Ladau, Mis Urip dan lain-lain.

Pada tahun 1942, bala tentara Jepang menduduki Banyuwangi. Semua sarana dikuasai oleh Jepang; gedung bioskop tidak lagi main pada malam hari tetapi pada siang hari dan film Jawa sudah tidak ada lagi. Karena malam hari tidak boleh orang menyalakan lampu, apa lagi kalau sudah ada sirine berbunyi (Kushukaiho) , lampu dalam rumah pun harus padam.

Oleh sebab itu, kesenian Angklung Moh. Arif tidak diundang lagi main di gedung bioskop, demikian juga undangan lain untuk khitanan, perkawinan tidak ada. Pada saat-saat lengang inilah Moh. Arif sering duduk di muka Angklung dengan membawa pensil dan kertas dari merang, semacam buku tulis, mengarang lagu-lagu daerah Banyuwangi dengan not Jawa ji, ro, lu, pat, mo, dan nem. Kalau sudah berhasil menciptakan se-gending, Angklung dipukul (dibunyikan) berulang-ulang kali sambil memperbaiki kekurangannya, sampai betul-betul selesai, begitu seterusnya setiap berhasil mengarang lagu baru.

Waktu Moh. Arif bekerja di Perkebunan Selogiri, ia mengarang lagu Semeriwing Kembange Kopi, Nderes Karet, waktu ia bertani menciptakan lagu Nandur Jagung, Manuk Bethet, dan lain-lainnya. Karena ketika ia bertani menanam jagung, tanaman jagungnya seolah berbuah dirusak burung Bethet.

Dalam penjajahan Jepang untuk kaum priyayi rumah tangga diharuskan masuk Kaebhodan, untuk priyayi pemuda harus masuk Saenendan dan untuk wanita harus masuk Fujinkai. Fujinkai pada setiap hari Jum’at diharuskan turun ke sawah untuk matun (kerja bakti) Kenrohushi; mencabuti rumput dan daun genjer yang ada di sela-sela tanaman padi, agar padinya tumbuh subur. Padahal kalau sudah panen padinya seluruhnya diangkat oleh Jepang sedang petaninya sendiri disuruh makan jagung.

Istri Moh. Arif tidak ketinggalan masuk Fujinkai dan iktu melakukan Kenrohushi mencabuti rumput dan daun genjer. Setelah usai kerja bakti, istri Moh. Arif yang bernama Sayuti pulang membawa seikat daun genjer, sedang teman-temannya tidak ada yang membawa pulang daun genjer, bahkan pada tanya sama Sayuti, untuk apa daun genjer itu? Dijawab, ini kalau dimasak untuk sayur enak. Sampai di rumahnya, suaminya juga bertanya:”Untuk apa itu makanan babi dibawa pulang?” Dijawab: “Ini enak untuk sayur.”

Perlu diketahui bahwa istri Moh. Arif bukan orang Banyuwangi asli, keluarganya sudah biasa makan sayur daun genjer, sedang orang Banyuwangi sendiri tidak pernah makan genjer, karena waktu itu Sayuti pulang membawa daun genjer, teman-temannya pada heran.

Setelah istri Moh. Arif usai memasak nasi dan membuat sayur genjer, membuat sambal jeruk, nasi, sayur genjer dan sambal jeruk ditata di pelonco, suaminya dipanggil untuk makan. Baru kali inilah Moh. Arif merasakan enak dan nikmatnya sayur genjer, ternyata memang nikmat sekali. Oleh karena itu, ia mempunyai harapan supaya orang Banyuwangi suka makan genjer; ia menciptakan lagu Genjer-genjer.

Isi syair lagu Genjer-genjer adalah menceritakan orang mengambil genjer, dibawa pulang, diuntingi (diikat kecil-kecil) , didasar di pasar, orang membeli dibawa pulang, dimasak kemudian dimakan. Hanya itu sisi syair lagu Genjer-genjer, tidak ada sama sekali unsur politik atau ideologi suatu partai, hanya kebetulan yang mempopulerkan lagu tersebut adalah LEKRA, seandainya bukan LEKRA yang mempopulerkan lagu tersebut, tentau tidak ditafsirkan orang yang negatif seperti sekarang ini.

Untuk jelasnya saya kutipkan syair lagu Genjer-genjer, sebagai berikut:

Lagu Genjer-genjer

1. Genjer-genjer ring kedokan pating keleler

Emak tulik teko-teko muputi genjer

Oleh sak tenong mungkur sedot sing tulih-tulih

Genjer-genjer sak iki digowo mulih

2. Genjer-genjer diuntingi podo didasar

Dijejer-jejer sak ikine didol ring pasar

Emak-e jebeng podo tuku nggowo welasah

Genjer-genjer sak iki podo diolah

3. Genjer-genjer melebu pendhil wedang gemulak

Setengah mateng dientas wong dienggo iwak

Sego nong piring sambel jeruk ring pelonco

Genjer-genjer sak iki ayo dipangan.

Penulis Achmad Aksoro, lahir di Banyuwangi 6 Juni 1927. Budayawan dan pelukis ini adalah alumnus Pendidikan PEgawai Staf Departemen Penerangan (PPSDP 1960). Tulisannya yang berkisar tentang seni budaya dimuat di Mingguan Sura Blambangan, Tabloid Ge-M (Bali), majalah Budaya Jejak dll. Ia adalah Pembina Yayasan Pusat Dokumentasi Budaya Banyuwangi dan anggota Pusat Studi Budaya Banyuwangi (PSBB). Beralamat di Jalan Kalimas 38 Klembon, Singonegaran, Banyuwangi.

NOTE :

1. Sudah jelas istilah-istilah yang dipakai dalam lagu tersebut sangat-sangat Osing, bukan istilah Jawa. Misalnya “mungkur sedot sing tulih-tulih” . Jadi klaim dari kalau gak salah dalang Ki Nartosabdo (?) saya pikir ngawur. Kata “sing” sudah jelas berarti “tidak” (istilah Osing), bukan sing yang berarti “yang” berarti tidak (istilah Jawa)

2. Darimana penulis mendapat cerita ini? Apakah dari Moh. Arif langsung? Dari orang lain yang dekat dengan Moh, Arif? Tidak jelas. Apakah cerita istrinya itu benar? Soalnya dalam lirik lagunya, genjer itu sudah dijual di pasar, jadi sebenarnya sudah umum untuk sayur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: